Kompasharian.net | Jakarta – Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor (IKBBP), Tanto Sudiro, menegaskan adanya ancaman serius terhadap keutuhan sejarah bangsa. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap munculnya kelompok tertentu yang diduga sengaja melencengkan fakta sejarah, yang berpotensi merusak nilai-nilai kebangsaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Tanto dalam peringatan hari jadi ke-2 IKBBP yang digelar pada 22 Agustus 2026 di Jakarta. Dalam momentum tersebut, IKBBP juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo sebagai bentuk penguatan kolaborasi dalam menjaga warisan sejarah bangsa.
IKBBP sendiri merupakan organisasi yang didirikan oleh keturunan dan kerabat Barisan Pelopor—organisasi bentukan Presiden pertama RI, Bung Karno, pada 15 Agustus 1944, yang memiliki peran penting dalam mempercepat proses kemerdekaan Indonesia. Semangat heroisme para pelopor inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya IKBBP untuk meneruskan cita-cita perjuangan dalam bentuk yang relevan dengan zaman.
Dalam sambutannya, Tanto menyoroti menurunnya semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda. Ia menilai hal ini tidak lepas dari kurangnya edukasi yang intensif terkait sejarah perjuangan bangsa.
“Yang lebih berbahaya lagi, ada kelompok tertentu yang sengaja melencengkan fakta-fakta sejarah kebangsaan,” tegas Tanto.
Ia menambahkan bahwa distorsi sejarah bukan hanya sekadar kesalahan informasi, tetapi dapat menjadi “kejahatan sejarah” yang berpotensi mengikis nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah, masyarakat, serta generasi penerus untuk bersama-sama menjaga keaslian sejarah melalui edukasi yang berkelanjutan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Gerakan Revolusi Pemuda GARUDA, Ericko, menilai kondisi nasionalisme di Indonesia saat ini tengah mengalami tantangan serius. Dalam peringatan yang juga menandai 82 tahun berdirinya Barisan Pelopor, ia menyebut bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga semangat perjuangan.
“GARUDA menyadari bahwa amanah yang dipikul tidaklah ringan. IKBBP adalah rumah besar yang mengingatkan bahwa kemerdekaan ini diperoleh melalui perjuangan,” ujarnya.
Ericko menekankan bahwa sejarah tidak boleh hanya menjadi romantisme masa lalu, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata di masa kini. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara GARUDA, IKBBP, dan Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo dalam menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, generasi muda saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dalam memahami nilai-nilai sejarah, sehingga mampu menginternalisasi semangat perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan ini, IKBBP berharap dapat memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keutuhan sejarah bangsa sekaligus menanamkan kembali nilai-nilai nasionalisme di tengah masyarakat.
